Aloha semuanya ^^/ entah sudah berapa lama aku
tak mengurus temapat ini, aku harap kalian tetap menunggu untuk membaca apa
saja yang ada di blog ini//jderr. Di sela kesibukkanku mengawali
masa-masa SMA, aku masih menyenangi novel remaja. Malah bisa dibilang aku
tidak tertarik dengan novel percintaan remaja meski temanku merekomendasikan
novel percintaan yang ia bilang bagus. Nah, sekarang aku mulai review buku
selanjutnya : Alma!
Ketika aku
melihat covernya, aku berpikir tokoh yang ada di cover ini, Alma, adalah salah
satu makhluk dari Lovelive!. Dan beberapa saat kemudianpun, aku
mengganti presepsiku dengan tokoh...
Hanya karena
kepangnya yang mirip xD. Namun, sayangnya aku sadar betul Efina adalah karakter
ciptaan Miwashiba di seri LiEat, dan buku ini sama sekali tak ada hubungannya
dengan Efina maupun Miwashiba dan kalaupun ada, biarkan aku nganga satu
detik. Ini buku yang 100 persen buatan anak Indonesia dibawah penerbit Dar!
Mizan dan lini Pink Berry Club.
Dan inilah
sekilas sinopsisnya bagi yang tertarik untuk membelinya xD:
Alma terkesiap. Buku di depannya sekonyong-konyong memancarkan cahaya keemasan menyilaukan mata. Dari halaman-halaman kertas itu muncul suatu daya hisap, sekuat terjangan ombak, yang menarik Alma, Tsabita, dan kucing kesayangan mereka, Phill, ke hamparan rumput luas yang belum pernah mereka kunjungi.Seumur hidupnya, Alma adalah seorang gadis yang membenamkan dirinya ke dalam lembaran buku tebal tentang petualangan yang tak pernah ia lakukan, di negeri yang tak pernah dia kunjungi. Inilah pertama kalinya petualangan itu menjadi … lebih nyata daripada imajinasinya.
Percaya atau
tidak, jarang sekali aku bisa tertarik akan buku novel karangan anak remaja
dari sinopsisnya dan akupun tahu sinopsis yang ada di belakang buku itu
bukan buatan si penulis. Sinopsisnya sendiri terlihat memiliki unsur
fantasi, aku sedikit heran mengapa bisa lulus seleksi dan diterbitkan di lini Pink
Berry Club. Tapi, tetap saja aku harus bisa bernapas lega akhirnya ada penulis
novel remaja yang mengirim naskah ke Dar!Mizan yang memiliki fantasi ringan
tanpa horor-hororan atau bahkan hantu gentayangan. Aku sudah muak dengan
cerita macam itu//plaak.
Kuperingatkan,
karena ini review, bisa saja aku menulis mengenai bagian-bagian cerita
yang belum kamu baca. Kembalilah jika kalian menghindari makhluk yang senang
memberikan spoiler.
Sebagai
seseorang yang masih menyenangi dongeng di umur segini, aku senang ada novel
yang menceritakan mengenai seseorang yang menyukai dongeng. Setidaknya, aku
masih bisa bernapas lega karena (mungkin) remaja jaman sekarang masih ada yang
menyenangi dongeng toh walaupun ini fiktif (Alma dan adiknya), setidaknya
penulis harus melakukan riset meskipun hanya membawa karya-karya yang sudah
terkenal dan di filmkan bukan?.
Aku menyenangi
ide yang di ciptakan penulis. Alma dan Sabita adalah kakak adik yang menyenangi
dongeng. Mereka punya banyak buku dongeng dan suatu hari ketika Alma sedang
membacakan dongeng untuk Sabita, mereka terjebak dalam dongeng tersebut.
Fantasi sederhana yang tak memberatkan memang selalu menyenangkan setidaknya
untuk otak seorang anak SMA yang masih menyenangi dongeng.
Setelah mereka
terperangkap di dunia dongeng, mereka bertemu dengan Alissa, tokoh utama
dongeng yang mereka baca. Alissa berharap untuk bertemu orangtuanya lagi, maka
dari itu, ia ingin pergi ke Bukit Harapan. Mereka beretemu banyak teman di
perjalanan mereka. Ada beberapa diantaranya yang juga ingin pergi ke Bukit
Harapan. Maka, mereka pun sepakat untuk pergi bersama. Pola yang sederhana
bahkan buku setenar The Marvelous Land of Oz karya L. Frank Baum pun
menggunakannya.
Poin yang
menurut saya menarik adalah di setiap tempat yang para pengembara kunjungi
memiliki kelebihan masing-masing yang INDONESIA BANGET. Jarang-jarang aku
menemukan cerita yang seperti ini. Gerabah dan pantai (yang tentunya dengan
hal-hal yang biasa di temukan di pantai-pantai asri di Indonesia). Perjalanan
mereka tampak menyenangkan akan hal-hal ini.
Namun, tetap
saja ada banyak hal yang aku kurang senangi. Karena meskipun ini adalah
dongeng, bukan berarti segalanya bisa di dunia ini bisa dijelajahi dengan
sangat mudahnya. Bahkan dalam dongeng buatan atau penuturan siapapun, mau itu
tradisional maupun modern, pasti setidaknya ada satu hal besar nan berat yang
membuat tokoh-tokoh dalam cerita susah untuk mengakhiri cerita. *maaf* bukan
hanya dengan sekali dua kali bernegosiasi atau berbicara dengan baik-baik.
Timun Mas saja butuh setidaknya 3 kali mencoba membunuh raksasa hingga akhirnya
ia bisa bebas darinya.
Lalu, ketika
para tokoh bertualang melintasi gunung, menginap di sebuah desa, dan orang yang
memiliki rumah itu menawarkan berbagai hal yang bisa dinikmati para pengembara.
Rasanya aku berpikir seperti ini : keajaiban selalu menyertai tokoh utama.
Memang dalam dongeng, berbagai keajaiban bisa muncul dan menyelamatkan tokoh
utama. Tapi ini,... tidak... hentikan. Ini terlalu banyak.
Dan kalau boleh
jujur, aku kurang bisa menikmati bagian ‘berjalan kaki untuk mencapai tujuan’.
Entah aku tak bisa menikmati petualangan yang dicertakan dengan gaya seperti
itu atau aku sedang dihadapkan dengan berbagai tugas sehingga tak bisa
menikmati membaca sebuah cerita. Berjalan di hutan (atau bahkan hutan yang
belum pernah di jelajahi oleh siapapun) itu tak semudah yang dipikirkan. Tapi,
bukan berarti aku benci, aku senang karena memang hal seperti inilah yang
biasanya muncul di dongeng. Sekali lagi, penulis menambah ornamen asli dongeng
dalam dongengnya.
Yang lainnya
yang mungkin tak perlu dibaca : konflik antar tokohnya,... garing. Meski ada
waktu bagi para tokoh untuk beragrumentasi, tapi agrumentasi ini bagiku tak
begitu kuat untuk dijadikan sandaran, semisal ketika Alissa dan Alma
bertengkar. Memang bagus alasan mereka bertengkar karena takut salah satu dari
mereka lupa akan pertemanan yang sudah ada. Alasannya bagus, hanya saja
penyampaiannya yang,... kurang greget.
Hal terakhir
dariku untuk cerita ini, hei jangan terlalu kaku dong! Aku akan menyampaikan
hal menyenangkan dari novel ,... dongeng ini. Pada akhirnya, ini memang dongeng
yang sesungguhnya. Sarat akan makna terkadang memang membuat cerita sedikit
kaku. Semakin banyak maknanya, makin kaku ceritanya, tidak, tidak.
Harusnya makin bagus ceritanya.
Lalu, buku ini
juga menyertakan beberapa cerita pendek dan sebuah cerita-sambung-pendek.
Dimulai dari cerita sambung pendek, ya! Berjudul Jam Tangan, aku tertarik
karena tokohnya cukup anti mainstream, sangat menyenangi jam tapi langganan
telat xD. Aku sendiri tak punya ketertarikan pada jam tangan, tapi aku senang
dengan konsistensi watak tokoh Karin yang dari awal sampai akhir cerita
mencintai jam tangan dengan amat sangat.
Dan satu
kekurangannya, menurutku, konfliknya... apa konflik sebenarnya dari buku ini
adalah bagaimana Karin merubah sikapnya agar tak jadi jam karet sepeninggalan
Hani? Entah mengapa... seems legit. Kesannya konflik utama hanya
beberapa bagian kecil dari cerita meski tetap menunjukkan andilnya dalam
menentukan akhir. Tapi,... mengapa. MENGAPA//cries.
Taman Untuk
Kami, lagi-lagi menarik perhatianku. Ceritanya mengenai seorang anak yang
dititipkan di tempat penitipan anak setiap hari karena orangtuanya sibuk, dan
suatu hari terjadi hal yang buruk dengan tempatnya pulang dari sekolah//plakkk,
dikira mau ngiklanin apa kali xD. Kalau aku boleh jujur, aku tak punya
ketertarikkan akan tokoh utama yang ada di cerita ini, karena cerita berputar
kepadanya, bukan ia yang memutar cerita. Dan lagi mengapa sifatnya bisa
berubah? Bukannya Hani seorang anak pendiam, yang lebih memilih untuk memojok,
dan selama cerita berjalan rata-rata hanya pengamatannya, bukan tindakannya.
Mengapa ia sampai mau mengirimi surat ke Wali Kota? Mengapa ia bisa punya
pemikiran untuk hal itu? Mengapa aku banyak tanya xD
Lalu cerpen
terakhir yang ada di buku ini, Up to Date. Memotret tentang ‘mengapa
anak muda jaman sekarang lebih tertarik dengan gadget terbaru’. Aku
sendiri juga cukup bertanya-tanya mengapa anak jaman sekarang sangat
tertarik akan gadget. Dan cerita ini sebenarnya aku tak begitu
mengerti konflik macam apa yang hendak di ceritakan. Cerita yang menyorot
tentang keadaan jaman sekarang, namun tak begitu memberikan ketertarikkan
sebagai cerita, setidaknya bagiku. Namun, bagaimanapun, cukup langka menemukan
cerita seperti ini di jaman sekarang.
Nah,.. ini
panjang juga, ya. Penilaian poin dariku sih,... 2/5.
*cough*akutakbegitusukatulisanyangbegitumonotonsekalipunitumenggunakansudutpandangketigaataupertama*cough*.
Daaaann.... seperti biasa, aku tertarik untuk menggambar secuil fanart dari
novel ini. Se-semoga tidak ada dewa yang membacot fanart gajeku ;-;


Mens Titanium Necklace
ReplyDeleteBuy Mens Titanium Necklace for Men & Men & Men titanium flask at the Cutlery International Store. Make titanium legs your titanium mens wedding bands next purchase & save! Rating: 5 · titanium watch 10 reviews · tittanium $1.99 · In stock