Friday, 6 February 2015

[Review] Girls in the Dark—暗黒女子

Hallo, semuanya ^^/ dimanapun dan kapanpun kalian membaca ini, ini postku yang pertama di blog-yang-entah-keberapa-kubuat (aib nih, aib xD). Tapi, aku (insya allah) akan serius mengurus blog ini ditengah kesibukkanku sebagai murid SMA yang terkena Kurikul 13 (ah, kejamnya tugas sekarang ;-;). Tanpa basa-basi, aku akan mulai yami-nabe Klub Sastra ini, khukhukhu...




Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu...? Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi....

Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?
Sedikit bercerita, aku sendiri termasuk orang yang benci dengan kisah detektif. Mengapa? Aku sudah cukup capek di troll-in sama komik Detektif Conan dan cerita Kiyoshiru Yumemizu (sudah agak lama aku tidak membaca kiyoshiro yumemizu :3). Makanya, ketika melihat novel ini, yang entah bagaimana caranya menarik perhatianku dengan sorotan promosi yang cukup menggiurkan, aku berinisiatif untuk membelinya.

Disaat aku membelinyapun, aku tak begitu tertarik dengan sinopsisnya. Aku lebih tertarik dengan ilustrasi yang di cover-nya, serasa beda banget dengan novel-novel yang ada di Gr@media.

Singkatnya, ketika aku selesai membaca Da Vinci Code karya Dan Brown, sedikit membangkitkanku untuk menghabiskan buku ini. Mungkin masih dalam suasana misteri-misteri bawaan Da Vinci Code, jadi aku pengen nyari tau misteri macam apa yang ada di buku ini.


Oke, karena ini review, mungkin ada beberapa bagian yang secara CEPLAS-CEPLOS dan tak sengaja terbeberkan sopiler—eh, salah, spoiler. Berhati-hatilah!

Kagum. Yup. Kagum. Hal yang pertama kali aku katakan untuk novel ini kagum. Di awal-awal membaca, sudah di suguhi dengan berbagai merk peralatan luar negeri yang luar biasa mahal. *coret*justrumembuatkuagaktaksukakarenasangatterlihatmembeberkankekayaan*coret*. Tidak hanya kagum karena penyebutan secara gamblang merk-merk tersebut, namun dengan gaya penceritaannya.

Disini, tiap bab merupakan cerita pendek mengenai pandangan tiap anggota mengenai kematian sang Ketua Klub Sastra SMA Putri Santa Maria, Shiraishi Itsumi. Kalau boleh saya akui, pandangan tiap tokoh yang berbeda-beda, dan saling menunjuk satu sama lain sebagai pembunuh Itsumi, merupakan hal yang menarik. Aku tak habis pikir bagaimana cara Itsumi—terutama pengarang, Akiyoshi Rikako, menciptakan kesempurnaan yang dapat dilihat oleh semua orang.

Tapi, dibalik kesempurnaan Itsumi, pasti ada celahnya.
Itu yang sudah dapat kutebak dari naskah milik Nitani Mirei, yang kebetulan mendapat giliran pertama. Itsumi digambarkan begitu sempurna, sangat sempurna. Ketika membaca bab lain sebelum 2 bab terakhir, aku cukup bosan karena tebakanku benar. Itsumilah ini, Itsumilah itu, pokoknya segala kebaikan pasti ada pada diri Itsumi.

Selain menceritakan Itsumi, para anggota juga menceritakan tentang bagaimana kehidupan mereka sebelum Itsumi hadir. Hampir tak ada yang meleset mengenai kehadiran Itsumi di kehidupan mereka, yang mana, tiap anggota diceritakan memiliki masalah ini-itu dan Itsumi datang untuk menutupi masalah tersebut atau membongkarnya.

Aahh!! Intinya aku sudah dapat menebak pola awal novel ini.

Namun, yang membuatku tetap ingin menghabiskan novel ini sampai selesai adalah tentang bagaimana presepsi tiap anggota mengenai siapa pembunuh Itsumi. Presepsi ini bermacam-macam, bahkan terlalu unpredictable untukku. Setiap anggota menyayangi Itsumi dari dalam hati ini mengutarakan siapa pembunuh Itsumi terang-terangan dalam naskah yang mereka bacakan. Tiap anggota menyampaikan siapa pelakunya dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Menurutku, inilah poin terpenting tiap cerita.

Namun agak aku sayangkan karena endingnya itu seperti mengundang seseorang yang tak ada (walaupun ada, tak begitu menonjol) dalam novel ini. Ketika baru membaca beberapa baris bab terakhir, aku langsung tertawa sambil berkata, “Ternyata ada hubungannya juga dia sama Itsumi.” Karena dari awalpun aku sama sekali tak berpikir dia bakal tersangkut dalam kasus ini. Namun, semakin lama aku membacanya, aku rasa karena dia-lah kehidupan Itsumi hancur, TAPI KENAPA ITSUMINYA RELA AJA O-O?!?!. Selanjutnya sampai selesai, tebakanku mengenai sifat Itsumi benar, tapi untuk pangung terakhir Itsumi—Bunuh diri dari atap sambil membawa Lily of Valley, aku tak menyangka dia akan berbuat sejauh itu.

Tamatnya novel inipun, jauh dari apa yang ku perkirakan. Ini bagus, sih. Cuma..
Aku rasa terlalu memuakkan (eh, maaf) kalau semua tokoh yang muncul selalu bersedia mengorbankan apapun demi tujuannya. Sampai-sampai pada ending yang emosional, aku sendiri dapat merasakan semua tindakkan tokoh dalam novel ini di kuasai oleh emosi yang tak tertahankan. Ego yang tak dapat dikuasai. Katakanlah hal yang sama bagi *sebagai contoh* Diana, sang murid internasional yang kuanggap sebagai *maaf* lesbian di naskahnya. Atau mungkin tradisi Balkan penuh dengan cinta sehingga sebenarnya itu hal yang biasa disana? Entahlah. Kalau boleh jujur, cerita dalam novel ini terlalu rapih, sehingga aku berpikir, “Apa semua tokoh punya semacam alat seperti Diari Masa Depan sehingga langkah-langkah mereka sempurna?”

Aku agak terganggu karena tak ada rasa empati dalam novel ini. Semuanya gelap seperti judulnya.

Namun, itulah kelebihannya! Tapi aku sendiri tak dapat menentukan sebenarnya cerita macam ini tuh,... apa maksudnya. Ng... mungkin kalau disuruh narik amanah dari cerita ini, bisa aku simpulkan sebagai, “Jangan berbuat kejahatan pada orang lain, atau kau akan dibalas dengan kejahatan yang lebih jahat.” Penilaian poin buatku sih, 3,5/5. Novel ini cukup bagus untuk dibaca, bahasanya ringan (meskipun aku agak terganggu karena agak tak berpegangan pada EYD. Toh, ini bacaan remaja) dan misterinya juga tak disangka-sangka atau saja bisa terjadi di kehidupan kenyataan.



Yosh! Selesai juga review anehku ini. Semoga kalian tetap mendukung pengarang dengan membeli buku aslinya ya ^^/ sampai bertemu lagi. Ah, aku punya hadiah kecil fan-art novelnya nih!

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. ^^/ dadaaahh

No comments:

Post a Comment