Hallo, semuanya ^^/ dimanapun dan kapanpun kalian membaca
ini, ini postku yang pertama di blog-yang-entah-keberapa-kubuat (aib nih, aib
xD). Tapi, aku (insya allah) akan
serius mengurus blog ini ditengah kesibukkanku sebagai murid SMA yang terkena
Kurikul 13 (ah, kejamnya tugas sekarang ;-;). Tanpa basa-basi, aku akan mulai yami-nabe
Klub Sastra ini, khukhukhu...
Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu...? Gadis itu mati.
Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.
Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.
Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi....
Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?
Sedikit bercerita, aku sendiri
termasuk orang yang benci dengan kisah detektif. Mengapa? Aku sudah cukup capek
di troll-in sama komik Detektif Conan
dan cerita Kiyoshiru Yumemizu (sudah agak lama aku tidak membaca kiyoshiro
yumemizu :3). Makanya, ketika melihat novel ini, yang entah bagaimana caranya
menarik perhatianku dengan sorotan promosi yang cukup menggiurkan, aku
berinisiatif untuk membelinya.
Disaat aku membelinyapun, aku
tak begitu tertarik dengan sinopsisnya. Aku lebih tertarik dengan ilustrasi
yang di cover-nya, serasa beda banget
dengan novel-novel yang ada di Gr@media.
Singkatnya, ketika aku selesai
membaca Da Vinci Code karya Dan
Brown, sedikit membangkitkanku untuk menghabiskan buku ini. Mungkin masih dalam
suasana misteri-misteri bawaan Da Vinci
Code, jadi aku pengen nyari tau
misteri macam apa yang ada di buku ini.
Oke, karena ini review, mungkin
ada beberapa bagian yang secara CEPLAS-CEPLOS dan tak sengaja terbeberkan sopiler—eh, salah, spoiler. Berhati-hatilah!
Kagum. Yup. Kagum. Hal yang
pertama kali aku katakan untuk novel ini kagum. Di awal-awal membaca, sudah di
suguhi dengan berbagai merk peralatan
luar negeri yang luar biasa mahal.
*coret*justrumembuatkuagaktaksukakarenasangatterlihatmembeberkankekayaan*coret*.
Tidak hanya kagum karena penyebutan secara gamblang merk-merk tersebut, namun
dengan gaya penceritaannya.
Disini, tiap bab merupakan
cerita pendek mengenai pandangan tiap anggota mengenai kematian sang Ketua Klub
Sastra SMA Putri Santa Maria, Shiraishi Itsumi. Kalau boleh saya akui,
pandangan tiap tokoh yang berbeda-beda, dan saling menunjuk satu sama lain
sebagai pembunuh Itsumi, merupakan hal yang menarik. Aku tak habis pikir
bagaimana cara Itsumi—terutama pengarang, Akiyoshi Rikako, menciptakan kesempurnaan yang dapat dilihat oleh
semua orang.
Tapi, dibalik kesempurnaan
Itsumi, pasti ada celahnya.
Itu yang sudah dapat kutebak
dari naskah milik Nitani Mirei, yang kebetulan mendapat giliran pertama. Itsumi
digambarkan begitu sempurna, sangat sempurna. Ketika membaca bab lain sebelum 2
bab terakhir, aku cukup bosan karena tebakanku benar. Itsumilah ini, Itsumilah
itu, pokoknya segala kebaikan pasti ada pada diri Itsumi.
Selain menceritakan Itsumi,
para anggota juga menceritakan tentang bagaimana kehidupan mereka sebelum
Itsumi hadir. Hampir tak ada yang meleset mengenai kehadiran Itsumi di
kehidupan mereka, yang mana, tiap anggota diceritakan memiliki masalah
ini-itu dan Itsumi datang untuk menutupi masalah tersebut atau membongkarnya.
Aahh!! Intinya aku sudah dapat
menebak pola awal novel ini.
Namun, yang membuatku tetap
ingin menghabiskan novel ini sampai selesai adalah tentang bagaimana presepsi
tiap anggota mengenai siapa pembunuh Itsumi. Presepsi ini bermacam-macam,
bahkan terlalu unpredictable untukku.
Setiap anggota menyayangi Itsumi dari
dalam hati ini mengutarakan siapa pembunuh Itsumi terang-terangan dalam naskah
yang mereka bacakan. Tiap anggota menyampaikan siapa pelakunya dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain.
Menurutku, inilah poin terpenting tiap cerita.
Namun agak aku sayangkan karena
endingnya itu seperti mengundang seseorang yang tak ada (walaupun ada, tak
begitu menonjol) dalam novel ini. Ketika baru membaca beberapa baris bab
terakhir, aku langsung tertawa sambil berkata, “Ternyata ada hubungannya juga dia sama Itsumi.” Karena dari awalpun
aku sama sekali tak berpikir dia
bakal tersangkut dalam kasus ini. Namun, semakin lama aku membacanya, aku rasa
karena dia-lah kehidupan Itsumi
hancur, TAPI KENAPA ITSUMINYA RELA AJA O-O?!?!. Selanjutnya sampai
selesai, tebakanku mengenai sifat Itsumi benar, tapi untuk pangung terakhir Itsumi—Bunuh diri dari atap sambil membawa Lily of Valley, aku tak menyangka
dia akan berbuat sejauh itu.
Tamatnya novel inipun, jauh
dari apa yang ku perkirakan. Ini bagus, sih. Cuma..
Aku rasa terlalu memuakkan (eh,
maaf) kalau semua tokoh yang muncul selalu bersedia mengorbankan apapun demi
tujuannya. Sampai-sampai pada ending yang emosional, aku sendiri dapat
merasakan semua tindakkan tokoh dalam novel ini di kuasai oleh emosi yang tak tertahankan.
Ego yang tak dapat dikuasai. Katakanlah hal yang sama bagi *sebagai contoh* Diana,
sang murid internasional yang kuanggap sebagai *maaf* lesbian di naskahnya.
Atau mungkin tradisi Balkan penuh dengan cinta sehingga sebenarnya itu hal yang
biasa disana? Entahlah. Kalau boleh jujur, cerita dalam novel ini terlalu
rapih, sehingga aku berpikir, “Apa semua tokoh punya semacam alat seperti Diari
Masa Depan sehingga langkah-langkah mereka sempurna?”
Aku agak terganggu karena tak
ada rasa empati dalam novel ini. Semuanya gelap seperti judulnya.
Namun, itulah kelebihannya! Tapi
aku sendiri tak dapat menentukan sebenarnya cerita macam ini tuh,... apa
maksudnya. Ng... mungkin kalau disuruh narik amanah dari cerita ini, bisa
aku simpulkan sebagai, “Jangan berbuat kejahatan pada orang lain, atau kau akan
dibalas dengan kejahatan yang lebih jahat.” Penilaian poin buatku sih, 3,5/5.
Novel ini cukup bagus untuk dibaca, bahasanya ringan (meskipun aku agak
terganggu karena agak tak berpegangan pada EYD. Toh, ini bacaan remaja) dan
misterinya juga tak disangka-sangka atau saja bisa terjadi di kehidupan
kenyataan.
Yosh! Selesai juga review
anehku ini. Semoga kalian tetap mendukung pengarang dengan membeli buku aslinya
ya ^^/ sampai bertemu lagi. Ah, aku punya hadiah kecil fan-art novelnya nih!
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. ^^/ dadaaahh


No comments:
Post a Comment