Friday, 27 March 2015

weird post (?): 1

Sudah berapa lama ya semenjak terakhir kali aku muncul disini xD? Maaf, maaf, akhir-akhir ini aku tenggelam dalam game online pedang-pedangan, Touken Ranbu (yang dari Bichuu no Kuni, PVP yuk!). Kali ini, karena kegalauanku dan kestressanku tak bisa mem-post ini di facebook-ku, aku melamparnya kesini. Aku harap kalian bisa ikut merenungkannya  mengkritik dan memberi saran yang baik :D

Warning: SARA. Ya, aku sadar betul saat membuatnya.



“Ayah!” aku hanya bisa terisak melihat pemandangan di hadapanku. Ini tidak mungkin. Tidak mungkin! “Kenapa? Kenapa harus begini?”

“Layla,...” ia mengusap tudungku yang berantakan ini. Tapi hal itu sama sekali tidak membuatku tenang. “Itu adalah hal yang telah Tuhan maktubkan dalam kitabnya. Cobalah untuk menerimanya, Layla.”

“Tapi,... kenapa ... kenapa harus secepat ini? Bukankah ia memimpikan agar bisa melihat tempat-tempat dimana Orang-Orang pilihan-Nya beristirahat? Bukankah ia masih punya banyak tujuan yang belum di selesaikan?” aku masih memegang tangannya yang mendingin. Sama sekali tak ada kehangatan yang tersisa ditangannya, sama sekali.

“Karena hal itulah, kita diharuskan untuk tidak mencintai terlalu dalam dunia ini, ‘kan?”

“Jadi, Ayah bilang kalau kematiannya percuma? Apa yang ia lakukan selama ini percuma?” aku makin terisak mendengarnya. Dengan menggenggam tangannya kuat, aku berkata, “Ia martir, Ayah! Ia martir untuk Tuhannya! Ia seharusnya ditempatkan di tempat yang bagus, bukan? Ia tak pantas untuk mendapatkan neraka!”

“Siapapun yang tidak mempercayai Tuhan yang esa akan mendapat balasannya. Kau sudah sering mendengarkannya, ‘kan? Para Majusi itu, para Nazaret, imam-imam Israil, dan banyak lagi yang tak bisa kusebutkan, mereka telah dijanjikan untuk kekal di neraka-Nya.”

“Tapi,... mengapa... aku hanya tidak mengerti... mengapa Tuhan menciptakan sesuatu yang kejam seperti ini? Ia baik selama hidup! Ia menghargaiku yang berbeda dari golongannya! Ia pergi berkelana bersama kita untuk menemui tempat Orang-Orang Pilihannya memperjuangkan keesaan-Nya. Tapi mengapa... mengapa secepat ini...? Yang ia miliki hanya niat sepenuh hati yang baik.”

“Ia Nazaret, Layla. Ia mempercayai pengkhianat utusan Tuhan yang disalib itu adalah anak Tuhan, sementara telah jelas bahwa utusan Tuhan yang terakhir menyampaikan bahwa Tuhan tidak memiliki istri, anak, atau bahkan diperanakkan. Kau ingat itu, bukan?”

“Tapi,... sungguh... aku tidak mengerti...” aku menutup mataku dengan tangannya yang lemas. Rasa sesak di dada ini,... mungkin bagaimanapun caranya aku mengatakannya kepada Ayahku, ia tak akan mengerti. Tidak, sepertinya aku yang tak mengerti perasaan ini.

Benar. Aku tak mengerti perasaan ini.

Dan perasaan ini membuat sebuah pernyataan—do’a yang tak mungkin dikabulkan tergiang di kepalaku. ‘Ya Tuhan, tolong putar kembali waktu dan aku akan dengan segenap kekuatanku untuk membimbingnya kembali kepadamu!’

“Layla,” ia menepuk pundakku, “sepertinya aku mengerti apa yang kau katakan dahulu. Ketika aku masih duduk di singgasanaku,” ayah mulai menatap wajahku dengan serius, dan entah mengapa ditatapnya dengan seperti ini sesak rasanya. “Kau mencintainya bukan? Mencintai-nya layaknya Tuhan anak ini mencintai orang yang tersesat. Mencintainya seperti rasa cinta utusan kita dan orang Ibrani yang buta itu. Aku tak tahu harus berkata apa, Layla,”

Dan aku menghirup udara dan menguatkan diriku. Udara gurun ini,... apa jejakmu wahai pencabut nyawa—yang mematikan orang yang kusayangi, meski ia memilih penyelamat yang lain selain Tuhanku? Dan entah mengapa, kata-kata ironis ini—yang aku sangat ingat sering keluar dari bibir Ayahku, terlontar:


“Sayang sekali, ya?”


Dengan ajaibnya, Ayahku juga mengatakan kata itu tepat disaat aku bergumam.

“Layla, hapus air matamu. Kalau kau benar-benar mencintainya, di Hari Penghakiman nanti, kau akan di satukan dengannya.” Intonasinya seserius ini... kata-kata yang sangat menusuk dadaku. “Apa kau ingin bertemu lagi dengannya?”

Kali ini wajahnya bersimpati amat sangat kepadaku. Aku tahu jawaban rasional dari pertanyaan itu adalah tidak. Tapi, aku tak ingin melihat kelogisan sekarang. Cukup,... bagaimana caranya aku menyembuhkan luka hatiku ini.

“A-a-aku tidak tahu... ta-tapi aku ingin menyelamatkannya.”

Aku yakin ini jawaban yang salah. Jawaban yang muncul karena kerasionalan di kepalaku digantikan oleh duka ini. Sementara aku hanya mendengar tarikkan napas berat beliau. “Begitu kah... sayang sekali, ya.”

“Ayo, Layla. Kita harus segera memakamkannya.” Beliau segera bangkit dari posisinya. “Kita harus melanjutkan perjalanan kita.”

“Tidakkah kita bisa memakamkannya sesuai dengan apa yang diperintahkan Orang Utusan-Nya?”

“Layla, semua hukum Tuhan telah dengan jelas melarangnya. Ayo.”

Wahai udara gurun, aku tidak menyalahkanmu. Kalau ia dimakamkan disini, apa ia akan mendapat urutan penimbangan amal lebih awal? Mungkin semua gurun luas di dunia ini adalah lapangan dimana semua orang dikumpulkan sesuai dengan golongannya dan dia... apa aku bisa menyelamatkannya? Ah,... Tuhan,... mengapa aku mengembangkan perasaan yang murni ini kepada orang yang salah?

Ayah dengan cepat menggali tanah yang agak keras dan menanamnya disana. Tanpa kafan, tanpa dibacakan do’a, tanpa shalat, tanpa iringan dengan kata-kata penuh rasa syukur kepada Tuhan. Apa dahulu, salah satu anak Adam yang dibunuh kakaknya dimakamkan sehening ini?

Ayah mengambil sebuah batu berukuran agak besar dan menandakan dimana posisi kepalanya berada. “Ayo kita lanjutkan kembali perjalanan kita.”

Angin gurun. Disini, orang yang kusayangi menghabiskan napasnya sebelum tercerai berai dan akhirnya menyisakan kehampaan. Apakah kau masih menyimpan napasnya? Tolong jagalah napasnya berserta apa yang terjadi kembali hari ini kepada-Nya agar tak ada yang menderita lagi. Selamat beristirahat menuju Pengadilan yang sesungguhnya, tuangku.[23 march 2015 11:22]

--==++==---

lalala. Aneh kah? Ini yang kupikirkan semenjak aku kecil, ketika menonton salah satu animasi tentang Habil dan Qabil. Ini hanya keinginan anehku karena aku yakin Qabil akan masuk neraka karena dosanya dan aku ingin menyelamatkannya(?) . anehnya sampai sekarang aku masih memikirkannya. Dan saat membuatnya aku teringat kata petuah guru agama SMP-ku yang selalu membuat kepo dengan pertanyaan twistnya tiap pelajarannya, "Di akhirat nanti kita akan dipertemukan dengan orang yang kita cintai."dan entah mengapa setiap aku memikirkannya, aku takut.

Anak Adam yang dikuburkan itu merujuk pada Habil dan Qabil. Orang Ibrani merujuk pada hadist terkenal mengenai Nabi Muhammad SAW yang menyuapi seorang Yahudi yang buta. Orang Nazaret disini merujuk kepada pemeluk Kristiani. Imam-imam Israil merujuk kepada rabbi-rabbi Yahudi. 

saya melihat rasa cinta itu murni, tidak sebarbar anak muda atau yang sudah tua tapi masih menganggap muda dalam lagu dan kelakuannya, meski cinta itu kadang atau malah sering tidak mementingkan logika dan apa yang telah ditetapkannya. Sebenarnya aku agak tak ingin mengupload ini, hanya saja aku muak dengan novel-novel percintaan picisan di toko buku dengan tokoh utama orang Islam yang yah, mainstream.

No comments:

Post a Comment