Sunday, 15 February 2015

[Review] ZEE & SYD

Judul buku : ZEE & SYD
Nama pengarang : Iwok Abraqy
Nama komikus : Muhadzab Hasan
Penerbit : Dar! Mizan
Terbit : Desember 2014
Harga : Rp. 39.000

Daaan, ini review ku yang ketiga di blog ini! Entah kesambet darimana, aku rasa aku tertarik dengan cover PBC yang satu ini. Tumben beda, kataku. Beda dari yang biasanya xD karena baru pertama kali melihat cover PBC itu adalah ilustrasi yang dipisah dengan satu judul bertuliskan Zee & Syd. Semoga kalian tertarik untuk membacanya membelinya!



Zee (Fauziah) sebal dan gatal akan ulah Syd (ney), anak baru di kelas. Bukan saja karena cowok itu hampir menyerempetnya dengan motor di depan sekolah dan mengakibatkan sahabatnya luka-luka. Syd dianggapnya belagu dan tidak peduli sekitar.
Zee tidak suka cowok yang ugal-ugalan di jalan, ngebut dengan motor seolah jalanan hanya milik mereka. Meski begitu, saat terjadi kecelakaan yang melibatkan anak geng motor di depan matanya, hati Zee tersentuh juga. Dia menolong korban dan mengantarnya ke rumah sakit, bahkan saat teman-teman geng motor lainnya tidak peduli dan kabur meninggalkan teman mereka yang terluka.
Pelan-pelan Zee menyimpulkan bahwa ada sisi lain dari setiap hal yang dijumpainya. Seberapa pun berbahaya, ada alasan mengapa cowok bergabung dengan geng motor. Seberapa pun dia marah, selalu ada alasan memaafkan. Dan seberapa pun belagu, ada alasan untuk menyayangi … Buru-buru Zee menggelengkan kepalanya. Dia masih butuh waktu untuk menemukan sisi lain dari diri Syd.

Sebenarnya, beberapa hari sebelum buku itu terlihat di geramed setempat, aku sudah melihatnya di fanpage PBC sendiri. Aku sudah cukup kebal dengan ilustrasi cling-cling Margaretta Devi, dan kupikir novel ini agak beda dari biasanya. Yang mungkin agak... mulai menyertakan unsur percintaan remaja//plaakk.

Novel ini bercerita tentang seorang Zee yang bersahabat dengan baik dengan Sarah. Hari-hari indah mereka dikacaukan oleh tragedi keserempet motor saat hendak ke sekolah oleh murid baru yang konon katanya dari Sydney, Ostrali, eh, salah tulis, Australia. Dengan kedatangan si pemuda-aneh-sok-cuek-dengan-siapapun, Zee, yang punya rasa keadilan yang tinggi, tak tinggal diam untuk mendiamkan si murid baru yang menurutnya songong xD.

Mungkin tak ada yang bisa memberikan takdir yang tak terduga sekarang. Tapi, setelah Zee menolong seseorang yang terluka karena tawuran antar genk motor, bergeraklah takdir tak menguntungkannya. Zee dan Sarah sempat di cegat oleh genk motor yang menjadi pelaku karena ia menjadi saksi yang membeberkan apa saja yang ia lihat kepada wartawan, Pak Gustaf, yang untungnya ditolong oleh Syd tentunya.

Selanjutnya, Zee langsung su’udzon dengan Syd karena tragedi di serempet olehnya.

Tapi ternyata Zee salah!

Selanjutnya—

Wah, kalau diceritain semuanya mah, nanti ga seru bacanya xD intinya Zee dan Sarah beberapa kali mendapat teror atas keberanian mereka.

Aku senang dengan temanya yang remaja, cukup berbeda dari cerita-cerita remaja yang rata-rata hanya sekedar pertemanan-persahabatan-musuhan-balik sahabatan.  Baik, bukannya aku mengejek atau bahkan membenci cerita berpola seperti itu. Itu hanya... terlalu berpola. Aku menikmati cerita yang cukup mainstream bahkan sudah kuketahui endingnya  asalkan bisa menceritakan dengan seru, seperti komik dan OVA Saint Seiya : The Lost Canvas oh,... aku fans seri Saint Seiya semenjak awal masuk SD, dan mengingat betul pola ceritanya :v tapi aku menunggu kejutan yang ada didalamnya.

Aku menyukai tokoh Zee, karena serasa melihat refleksi diriku sewaktu SMP, benar-benar berpegang kuat dengan idealisme keadilannya. Tokoh ini juga menarik, karena ia sadar tak bisa mundur,  tak bisa melangkah maju, namun ia tak boleh terlihat takut akan teror dari sekitarnya.

Hal lain yang aku senangi dari buku ini, buku ini ditulis dengan hati-hati. Aku tidak menemukan plothole di cerita serapi ini. Mungkin kalau kebetulan ada. Tapi, hei, bahkan kebetulan itu sendiri bisa muncul di kehidupan nyata, bukan? Asumsikan saja kamu tak punya uang untuk pulang naik angkot dan temanmu baru bayar utang yang udah kamu lupain saking lamanya nggak ditagih. Kebetulan bukan? Apa kamu akan langsung merasa ‘betapa beruntungnya hari ini makhluk ini akhirnya bayar hutang’?

Lalu, menilai dari segi komiknya. Mengenai Novel Komik (Nomik) sendiri, aku baru tahu formatnya seperti ini. Kukira, aku bisa menikmati cerita novelnya sepenuhnya dan beberapa penggambaran versi komiknya tak dapat porsi satu bab penuh. Mungkin karena aku kebanyakan baca novel ringan baik itu buatan Jepang atau novel ringan Cina/Taiwan. Adakah yang menyenangi karya Yu Wo? Berikan aku sinopsis Eclipse Hunter volume 1 dong -.- aku sedang tak bersemangat membacanya.

Komiknya terlihat sangat indonesia, setidaknya dari segi balon kata xD. Aku sering membaca komik Jepang yang balon katanya lebih oval dan lebih bermacam-macam bentuknya sampai aku bingung ketika ingin mencoba membuat komik.

Lalu,... inilah bagian kritikku! Aku memperingatkan bagi yang belum membaca untuk kembali ke garis aman jika kalian tidak ingin membaca spoiler.

Untuk watak tokoh Syd, salah satu watak tokoh yang cukup sering ku temui. Tapi mau di bacot apalagi, keadaan seperti itu nyata. Tak ingin membicarakan banyak hal karena terlalu stres dihadapkan masalah besar seperti perceraian. Pelarian dari hal ini bisa ke banyak hal, yang biasanya jika tak tertolong akan masuk ke dunia yang berbahaya. Tapi aku cukup menyenangi Syd yang meskipun ada dalam genk motor, ia tak terwarnai dengan keadaan (aku membayangkan sebaik apapun, yang namanya genk anak muda pasti ada yang tak benarnya). Meski aku mengomentari hal ini, entah mengapa karena hal ini sudah biasa terjadi di lingkungan hidup atau kekliseannya yang sering muncul di cerita-cerita yang ku lihat, aku tak punya saran yang bagus//jdaaarr.

Kebetulan. Berbagai kebetulan ini selalu menunjuk kepada keberuntungan nasib sang tokoh utama. Aku agak jeles dengan Zee dan berpikir bagaimana kalau ia ada di posisi Danang dkk.

Lalu yang terakhir, dari segi komiknya. Komiknya sendiri sudah bagus untuk menyampaikan cerita. Aku malah membacanya seperti membaca komik shonen action. Yang menjadi perhatian utamaku screentone di beberapa panel. Di panel ke-6, panel terakhir halaman 62, rambut Syd terlihat “berwarna” padahal di halaman berikutnya, screentone hanya digunakan untuk shading rambut. Hal ini juga terjadi di halaman 89, 90, dan 91. Dan satu hal terakhir yang mungkin tak perlu di perhatikan serius, lineart (ah, aku tidak tahu istilahnya dalam dunia komik- -) terlalu tebal dan terlihat seperti kaku. Untuk screentone, aku rasa tak begitu dipermasalahkan orang-orang, tapi aku merasa tak enak mungkin karena terlalu jeli dengannya. Dan aku tak tahu solusi apa yang bisa ku berikan untuk hal terakhir, mungkin mencoba berlatih untuk sang komikus. Berjualnglah! Karena aku juga serang berjuang untuk memperbagus gambarku xD!

Dan masih di sekitar komik, rasanya aku pernah melihat ilustrasi di halaman pengenalan tokoh yang menggambarkan Zee dan Syd di salah satu grup komunitas manga dan ilustrasi muslim di DeviantArt xD apa itu hanya sekedar perasaanku? Karena aku belum mengeceknya lagi xD.

Bagi kalian yang penasaran dengan novel yang memiliki cerita cukup berbeda dan mengangkat tema yang cukup familiar dengan dunia remaja, bacalah novel ini! Kalau bisa beli dong xD biar kerja para penulis, komikus, editor dan segala orang yang ada dibalik pembuatan buku ini bisa makan xD



*uhuk*entah mengapa, meski aku punya ide untuk menggambar secuil ilustrasi, aku tak punya waktu cukup untuk menggambarnya xD *uhuk*


Sunday, 8 February 2015

[Review] Alma – Lita Asghira

Aloha semuanya ^^/ entah sudah berapa lama aku tak mengurus temapat ini, aku harap kalian tetap menunggu untuk membaca apa saja yang ada di blog ini//jderr. Di sela kesibukkanku mengawali masa-masa SMA, aku masih menyenangi novel remaja. Malah bisa dibilang aku tidak tertarik dengan novel percintaan remaja meski temanku merekomendasikan novel percintaan yang ia bilang bagus. Nah, sekarang aku mulai review buku selanjutnya : Alma!

Ketika aku melihat covernya, aku berpikir tokoh yang ada di cover ini, Alma, adalah salah satu makhluk dari Lovelive!. Dan beberapa saat kemudianpun, aku mengganti presepsiku dengan tokoh...


Hanya karena kepangnya yang mirip xD. Namun, sayangnya aku sadar betul Efina adalah karakter ciptaan Miwashiba di seri LiEat, dan buku ini sama sekali tak ada hubungannya dengan Efina maupun Miwashiba dan kalaupun ada, biarkan aku nganga satu detik. Ini buku yang 100 persen buatan anak Indonesia dibawah penerbit Dar! Mizan dan lini Pink Berry Club.

Dan inilah sekilas sinopsisnya bagi yang tertarik untuk membelinya xD:

Alma terkesiap. Buku di depannya sekonyong-konyong memancarkan cahaya keemasan menyilaukan mata. Dari halaman-halaman kertas itu muncul suatu daya hisap, sekuat terjangan ombak, yang menarik Alma, Tsabita, dan kucing kesayangan mereka, Phill, ke hamparan rumput luas yang belum pernah mereka kunjungi.Seumur hidupnya, Alma adalah seorang gadis yang membenamkan dirinya ke dalam lembaran buku tebal tentang petualangan yang tak pernah ia lakukan, di negeri yang tak pernah dia kunjungi. Inilah pertama kalinya petualangan itu menjadi … lebih nyata daripada imajinasinya.


Percaya atau tidak, jarang sekali aku bisa tertarik akan buku novel karangan anak remaja dari sinopsisnya dan akupun tahu sinopsis yang ada di belakang buku itu bukan buatan si penulis. Sinopsisnya sendiri terlihat memiliki unsur fantasi, aku sedikit heran mengapa bisa lulus seleksi dan diterbitkan di lini Pink Berry Club. Tapi, tetap saja aku harus bisa bernapas lega akhirnya ada penulis novel remaja yang mengirim naskah ke Dar!Mizan yang memiliki fantasi ringan tanpa horor-hororan atau bahkan hantu gentayangan. Aku sudah muak dengan cerita macam itu//plaak.

Kuperingatkan, karena ini review, bisa saja aku menulis mengenai bagian-bagian cerita yang belum kamu baca. Kembalilah jika kalian menghindari makhluk yang senang memberikan spoiler.

Sebagai seseorang yang masih menyenangi dongeng di umur segini, aku senang ada novel yang menceritakan mengenai seseorang yang menyukai dongeng. Setidaknya, aku masih bisa bernapas lega karena (mungkin) remaja jaman sekarang masih ada yang menyenangi dongeng toh walaupun ini fiktif (Alma dan adiknya), setidaknya penulis harus melakukan riset meskipun hanya membawa karya-karya yang sudah terkenal dan di filmkan bukan?.

Aku menyenangi ide yang di ciptakan penulis. Alma dan Sabita adalah kakak adik yang menyenangi dongeng. Mereka punya banyak buku dongeng dan suatu hari ketika Alma sedang membacakan dongeng untuk Sabita, mereka terjebak dalam dongeng tersebut. Fantasi sederhana yang tak memberatkan memang selalu menyenangkan setidaknya untuk otak seorang anak SMA yang masih menyenangi dongeng.

Setelah mereka terperangkap di dunia dongeng, mereka bertemu dengan Alissa, tokoh utama dongeng yang mereka baca. Alissa berharap untuk bertemu orangtuanya lagi, maka dari itu, ia ingin pergi ke Bukit Harapan. Mereka beretemu banyak teman di perjalanan mereka. Ada beberapa diantaranya yang juga ingin pergi ke Bukit Harapan. Maka, mereka pun sepakat untuk pergi bersama. Pola yang sederhana bahkan buku setenar The Marvelous Land of Oz karya L. Frank Baum pun menggunakannya.

Poin yang menurut saya menarik adalah di setiap tempat yang para pengembara kunjungi memiliki kelebihan masing-masing yang INDONESIA BANGET. Jarang-jarang aku menemukan cerita yang seperti ini. Gerabah dan pantai (yang tentunya dengan hal-hal yang biasa di temukan di pantai-pantai asri di Indonesia). Perjalanan mereka tampak menyenangkan akan hal-hal ini.

Namun, tetap saja ada banyak hal yang aku kurang senangi. Karena meskipun ini adalah dongeng, bukan berarti segalanya bisa di dunia ini bisa dijelajahi dengan sangat mudahnya. Bahkan dalam dongeng buatan atau penuturan siapapun, mau itu tradisional maupun modern, pasti setidaknya ada satu hal besar nan berat yang membuat tokoh-tokoh dalam cerita susah untuk mengakhiri cerita. *maaf* bukan hanya dengan sekali dua kali bernegosiasi atau berbicara dengan baik-baik. Timun Mas saja butuh setidaknya 3 kali mencoba membunuh raksasa hingga akhirnya ia bisa bebas darinya.

Lalu, ketika para tokoh bertualang melintasi gunung, menginap di sebuah desa, dan orang yang memiliki rumah itu menawarkan berbagai hal yang bisa dinikmati para pengembara. Rasanya aku berpikir seperti ini : keajaiban selalu menyertai tokoh utama. Memang dalam dongeng, berbagai keajaiban bisa muncul dan menyelamatkan tokoh utama. Tapi ini,... tidak... hentikan. Ini terlalu banyak.

Dan kalau boleh jujur, aku kurang bisa menikmati bagian ‘berjalan kaki untuk mencapai tujuan’. Entah aku tak bisa menikmati petualangan yang dicertakan dengan gaya seperti itu atau aku sedang dihadapkan dengan berbagai tugas sehingga tak bisa menikmati membaca sebuah cerita. Berjalan di hutan (atau bahkan hutan yang belum pernah di jelajahi oleh siapapun) itu tak semudah yang dipikirkan. Tapi, bukan berarti aku benci, aku senang karena memang hal seperti inilah yang biasanya muncul di dongeng. Sekali lagi, penulis menambah ornamen asli dongeng dalam dongengnya.

Yang lainnya yang mungkin tak perlu dibaca : konflik antar tokohnya,... garing. Meski ada waktu bagi para tokoh untuk beragrumentasi, tapi agrumentasi ini bagiku tak begitu kuat untuk dijadikan sandaran, semisal ketika Alissa dan Alma bertengkar. Memang bagus alasan mereka bertengkar karena takut salah satu dari mereka lupa akan pertemanan yang sudah ada. Alasannya bagus, hanya saja penyampaiannya yang,... kurang greget.

Hal terakhir dariku untuk cerita ini, hei jangan terlalu kaku dong! Aku akan menyampaikan hal menyenangkan dari novel ,... dongeng ini. Pada akhirnya, ini memang dongeng yang sesungguhnya. Sarat akan makna terkadang memang membuat cerita sedikit kaku. Semakin banyak maknanya, makin kaku ceritanya, tidak, tidak. Harusnya makin bagus ceritanya.

Lalu, buku ini juga menyertakan beberapa cerita pendek dan sebuah cerita-sambung-pendek. Dimulai dari cerita sambung pendek, ya! Berjudul Jam Tangan, aku tertarik karena tokohnya cukup anti mainstream, sangat menyenangi jam tapi langganan telat xD. Aku sendiri tak punya ketertarikan pada jam tangan, tapi aku senang dengan konsistensi watak tokoh Karin yang dari awal sampai akhir cerita mencintai jam tangan dengan amat sangat.

Dan satu kekurangannya, menurutku, konfliknya... apa konflik sebenarnya dari buku ini adalah bagaimana Karin merubah sikapnya agar tak jadi jam karet sepeninggalan Hani? Entah mengapa... seems legit. Kesannya konflik utama hanya beberapa bagian kecil dari cerita meski tetap menunjukkan andilnya dalam menentukan akhir. Tapi,... mengapa. MENGAPA//cries.

Taman Untuk Kami, lagi-lagi menarik perhatianku. Ceritanya mengenai seorang anak yang dititipkan di tempat penitipan anak setiap hari karena orangtuanya sibuk, dan suatu hari terjadi hal yang buruk dengan tempatnya pulang dari sekolah//plakkk, dikira mau ngiklanin apa kali xD. Kalau aku boleh jujur, aku tak punya ketertarikkan akan tokoh utama yang ada di cerita ini, karena cerita berputar kepadanya, bukan ia yang memutar cerita. Dan lagi mengapa sifatnya bisa berubah? Bukannya Hani seorang anak pendiam, yang lebih memilih untuk memojok, dan selama cerita berjalan rata-rata hanya pengamatannya, bukan tindakannya. Mengapa ia sampai mau mengirimi surat ke Wali Kota? Mengapa ia bisa punya pemikiran untuk hal itu? Mengapa aku banyak tanya xD

Lalu cerpen terakhir yang ada di buku ini, Up to Date. Memotret tentang ‘mengapa anak muda jaman sekarang lebih tertarik dengan gadget terbaru’. Aku sendiri juga cukup bertanya-tanya mengapa anak jaman sekarang sangat tertarik akan gadget. Dan cerita ini sebenarnya aku tak begitu mengerti konflik macam apa yang hendak di ceritakan. Cerita yang menyorot tentang keadaan jaman sekarang, namun tak begitu memberikan ketertarikkan sebagai cerita, setidaknya bagiku. Namun, bagaimanapun, cukup langka menemukan cerita seperti ini di jaman sekarang.


Nah,.. ini panjang juga, ya. Penilaian poin dariku sih,... 2/5. *cough*akutakbegitusukatulisanyangbegitumonotonsekalipunitumenggunakansudutpandangketigaataupertama*cough*. Daaaann.... seperti biasa, aku tertarik untuk menggambar secuil fanart dari novel ini. Se-semoga tidak ada dewa yang membacot fanart gajeku ;-;




Friday, 6 February 2015

[Review] Girls in the Dark—暗黒女子

Hallo, semuanya ^^/ dimanapun dan kapanpun kalian membaca ini, ini postku yang pertama di blog-yang-entah-keberapa-kubuat (aib nih, aib xD). Tapi, aku (insya allah) akan serius mengurus blog ini ditengah kesibukkanku sebagai murid SMA yang terkena Kurikul 13 (ah, kejamnya tugas sekarang ;-;). Tanpa basa-basi, aku akan mulai yami-nabe Klub Sastra ini, khukhukhu...




Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu...? Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi....

Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?
Sedikit bercerita, aku sendiri termasuk orang yang benci dengan kisah detektif. Mengapa? Aku sudah cukup capek di troll-in sama komik Detektif Conan dan cerita Kiyoshiru Yumemizu (sudah agak lama aku tidak membaca kiyoshiro yumemizu :3). Makanya, ketika melihat novel ini, yang entah bagaimana caranya menarik perhatianku dengan sorotan promosi yang cukup menggiurkan, aku berinisiatif untuk membelinya.

Disaat aku membelinyapun, aku tak begitu tertarik dengan sinopsisnya. Aku lebih tertarik dengan ilustrasi yang di cover-nya, serasa beda banget dengan novel-novel yang ada di Gr@media.

Singkatnya, ketika aku selesai membaca Da Vinci Code karya Dan Brown, sedikit membangkitkanku untuk menghabiskan buku ini. Mungkin masih dalam suasana misteri-misteri bawaan Da Vinci Code, jadi aku pengen nyari tau misteri macam apa yang ada di buku ini.


Oke, karena ini review, mungkin ada beberapa bagian yang secara CEPLAS-CEPLOS dan tak sengaja terbeberkan sopiler—eh, salah, spoiler. Berhati-hatilah!

Kagum. Yup. Kagum. Hal yang pertama kali aku katakan untuk novel ini kagum. Di awal-awal membaca, sudah di suguhi dengan berbagai merk peralatan luar negeri yang luar biasa mahal. *coret*justrumembuatkuagaktaksukakarenasangatterlihatmembeberkankekayaan*coret*. Tidak hanya kagum karena penyebutan secara gamblang merk-merk tersebut, namun dengan gaya penceritaannya.

Disini, tiap bab merupakan cerita pendek mengenai pandangan tiap anggota mengenai kematian sang Ketua Klub Sastra SMA Putri Santa Maria, Shiraishi Itsumi. Kalau boleh saya akui, pandangan tiap tokoh yang berbeda-beda, dan saling menunjuk satu sama lain sebagai pembunuh Itsumi, merupakan hal yang menarik. Aku tak habis pikir bagaimana cara Itsumi—terutama pengarang, Akiyoshi Rikako, menciptakan kesempurnaan yang dapat dilihat oleh semua orang.

Tapi, dibalik kesempurnaan Itsumi, pasti ada celahnya.
Itu yang sudah dapat kutebak dari naskah milik Nitani Mirei, yang kebetulan mendapat giliran pertama. Itsumi digambarkan begitu sempurna, sangat sempurna. Ketika membaca bab lain sebelum 2 bab terakhir, aku cukup bosan karena tebakanku benar. Itsumilah ini, Itsumilah itu, pokoknya segala kebaikan pasti ada pada diri Itsumi.

Selain menceritakan Itsumi, para anggota juga menceritakan tentang bagaimana kehidupan mereka sebelum Itsumi hadir. Hampir tak ada yang meleset mengenai kehadiran Itsumi di kehidupan mereka, yang mana, tiap anggota diceritakan memiliki masalah ini-itu dan Itsumi datang untuk menutupi masalah tersebut atau membongkarnya.

Aahh!! Intinya aku sudah dapat menebak pola awal novel ini.

Namun, yang membuatku tetap ingin menghabiskan novel ini sampai selesai adalah tentang bagaimana presepsi tiap anggota mengenai siapa pembunuh Itsumi. Presepsi ini bermacam-macam, bahkan terlalu unpredictable untukku. Setiap anggota menyayangi Itsumi dari dalam hati ini mengutarakan siapa pembunuh Itsumi terang-terangan dalam naskah yang mereka bacakan. Tiap anggota menyampaikan siapa pelakunya dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Menurutku, inilah poin terpenting tiap cerita.

Namun agak aku sayangkan karena endingnya itu seperti mengundang seseorang yang tak ada (walaupun ada, tak begitu menonjol) dalam novel ini. Ketika baru membaca beberapa baris bab terakhir, aku langsung tertawa sambil berkata, “Ternyata ada hubungannya juga dia sama Itsumi.” Karena dari awalpun aku sama sekali tak berpikir dia bakal tersangkut dalam kasus ini. Namun, semakin lama aku membacanya, aku rasa karena dia-lah kehidupan Itsumi hancur, TAPI KENAPA ITSUMINYA RELA AJA O-O?!?!. Selanjutnya sampai selesai, tebakanku mengenai sifat Itsumi benar, tapi untuk pangung terakhir Itsumi—Bunuh diri dari atap sambil membawa Lily of Valley, aku tak menyangka dia akan berbuat sejauh itu.

Tamatnya novel inipun, jauh dari apa yang ku perkirakan. Ini bagus, sih. Cuma..
Aku rasa terlalu memuakkan (eh, maaf) kalau semua tokoh yang muncul selalu bersedia mengorbankan apapun demi tujuannya. Sampai-sampai pada ending yang emosional, aku sendiri dapat merasakan semua tindakkan tokoh dalam novel ini di kuasai oleh emosi yang tak tertahankan. Ego yang tak dapat dikuasai. Katakanlah hal yang sama bagi *sebagai contoh* Diana, sang murid internasional yang kuanggap sebagai *maaf* lesbian di naskahnya. Atau mungkin tradisi Balkan penuh dengan cinta sehingga sebenarnya itu hal yang biasa disana? Entahlah. Kalau boleh jujur, cerita dalam novel ini terlalu rapih, sehingga aku berpikir, “Apa semua tokoh punya semacam alat seperti Diari Masa Depan sehingga langkah-langkah mereka sempurna?”

Aku agak terganggu karena tak ada rasa empati dalam novel ini. Semuanya gelap seperti judulnya.

Namun, itulah kelebihannya! Tapi aku sendiri tak dapat menentukan sebenarnya cerita macam ini tuh,... apa maksudnya. Ng... mungkin kalau disuruh narik amanah dari cerita ini, bisa aku simpulkan sebagai, “Jangan berbuat kejahatan pada orang lain, atau kau akan dibalas dengan kejahatan yang lebih jahat.” Penilaian poin buatku sih, 3,5/5. Novel ini cukup bagus untuk dibaca, bahasanya ringan (meskipun aku agak terganggu karena agak tak berpegangan pada EYD. Toh, ini bacaan remaja) dan misterinya juga tak disangka-sangka atau saja bisa terjadi di kehidupan kenyataan.



Yosh! Selesai juga review anehku ini. Semoga kalian tetap mendukung pengarang dengan membeli buku aslinya ya ^^/ sampai bertemu lagi. Ah, aku punya hadiah kecil fan-art novelnya nih!

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. ^^/ dadaaahh